Ada jenis humor internet yang kalau dijelaskan justru makin kehilangan lucunya. Seseorang menirukan suara aneh, karakter hewan setengah mesin muncul di layar, ada kalimat “Tung Tung Tung Sahur” dipakai di konteks yang sama sekali tidak nyambung, lalu komentar dipenuhi orang yang sama-sama pura-pura paham.
Anehnya, itu bekerja.
Di TikTok, X, Instagram Reels, sampai grup percakapan, humor internet tidak masuk akal sedang menjadi bahasa bersama. Bukan karena semua orang benar-benar memahami referensinya. Justru karena banyak orang menikmati sensasi tidak paham itu. Mereka menonton, mengulang, meniru, lalu membagikannya lagi karena ada rasa “kok bisa ya?” yang sulit dilepas.
Fenomena ini sering disebut sebagai bagian dari brainrot: istilah populer untuk menggambarkan konten internet yang terasa absurd, repetitif, hiperaktif, dan seperti menempel di kepala. Dalam praktiknya, brainrot bukan sekadar konten “bodoh”. Ia lebih mirip cermin kecil dari cara orang mengonsumsi hiburan hari ini: cepat, acak, penuh potongan suara, dan tidak selalu butuh alur yang rapi.

Lucu karena tidak memberi waktu untuk berpikir
Humor lama sering dibangun dengan setup dan punchline. Ada cerita, ada jeda, lalu ada bagian yang membuat orang tertawa. Humor internet sekarang lebih sering datang seperti lemparan benda dari balik pintu. Belum sempat siap, video sudah selesai. Kalau lucu, penonton memutar ulang. Kalau bingung, mereka juga memutar ulang.
Di sinilah TikTok punya peran besar. Pola scroll cepat membuat orang terbiasa menerima konteks dalam hitungan detik. Satu video bisa berisi suara yang dipercepat, caption yang terlalu serius, ekspresi wajah datar, dan objek yang sama sekali tidak relevan. Semua bertabrakan, tetapi justru tabrakan itu yang menjadi lelucon.
Generasi yang tumbuh bersama feed pendek tidak selalu mencari humor yang rapi. Mereka mencari kejutan kecil. Sesuatu yang bisa ditangkap dalam tiga detik, dijadikan komentar di tongkrongan digital, lalu berubah bentuk besok pagi. Kalau sebuah lelucon terlalu mudah dijelaskan, kadang malah terasa basi.
Brainrot bukan cuma kata makian internet
Kata brainrot sering dipakai bercanda, seolah-olah otak seseorang “rusak” karena terlalu banyak menonton konten aneh. Namun dalam budaya internet, istilah ini juga menjadi penanda selera. Orang bisa berkata, “ini brainrot banget,” bukan untuk menolak kontennya, melainkan untuk mengakui bahwa konten itu kacau, tidak penting, tapi tetap nagih.
Brainrot bekerja karena repetisi. Satu suara dipakai ribuan kali. Satu karakter muncul di banyak format. Satu kalimat yang awalnya terasa random berubah menjadi kode sosial. Orang yang sudah sering melihatnya akan merasa masuk ke dalam lingkaran kecil. Orang yang belum paham mungkin bertanya, lalu ikut terseret.
Di titik itu, humor tidak lagi hanya soal kelucuan. Ia menjadi tanda bahwa seseorang sedang “online” pada frekuensi yang sama. Paham sedikit saja sudah cukup. Bahkan tidak paham pun bisa menjadi bagian dari pengalaman.
Meme absurd dan rasa capek yang sama-sama dirasakan
Meme absurd tumbuh subur karena banyak orang sudah terlalu kenyang dengan konten yang terlalu halus. Setiap hari ada iklan yang rapi, konten motivasi yang seragam, video edukasi yang memakai formula sama, dan potongan drama yang disusun agar terlihat penting. Di tengah banjir konten yang terasa dipoles, meme absurd menawarkan kebalikannya: berantakan, tidak sopan pada logika, dan tidak meminta disetujui.
Itu sebabnya karakter-karakter aneh seperti Italian Brainrot bisa meledak. Formatnya memang sulit dijelaskan secara normal: makhluk dengan nama Italia palsu, suara yang dilebih-lebihkan, visual yang seperti mimpi buruk lucu, lalu narasi yang tidak peduli pada akal sehat. Tetapi justru karena itu, penonton tidak merasa sedang diberi ceramah. Mereka hanya diajak masuk ke dunia kecil yang kacau selama beberapa detik.
Contoh lain adalah “Tung Tung Tung Sahur”. Di Indonesia, bunyi dan ritme sahur punya memori kolektif. Ketika frasa itu dilempar ke format meme, ia membawa dua hal sekaligus: sesuatu yang lokal dan sesuatu yang absurd. Orang bisa tertawa karena ingat suasana Ramadan, tapi juga karena konteksnya tiba-tiba melenceng jauh dari realitas.
Kenapa Kicau Mania ikut masuk percakapan?
Kicau Mania sebenarnya punya dunia sendiri: komunitas pecinta burung, suara kicauan, lomba, sampai istilah-istilah yang hidup di antara penggemarnya. Namun di internet, batas komunitas sering bocor. Potongan audio, gaya komentar, atau istilah dari satu komunitas bisa masuk ke meme umum, lalu dipakai oleh orang yang bahkan tidak mengikuti komunitas aslinya.
Inilah yang membuat budaya internet terasa aneh sekaligus menarik. Satu istilah bisa kehilangan konteks awalnya, lalu hidup sebagai bahan bercanda baru. Di tangan pengguna TikTok, sesuatu yang sangat spesifik bisa berubah menjadi suara latar, template komentar, atau candaan yang dipahami secara setengah-setengah.
Kicau Mania, Italian Brainrot, dan Tung Tung Tung Sahur terlihat jauh berbeda. Namun ketiganya punya satu kesamaan: semuanya kuat secara suara. Dalam budaya scroll cepat, audio sering lebih cepat menempel daripada gambar. Orang mungkin lupa siapa pembuat awalnya, tetapi masih ingat irama, intonasi, atau potongan kalimatnya.
Konten aneh viral karena algoritma suka reaksi cepat
Platform video pendek tidak hanya mengukur apakah orang tertawa. Yang lebih mudah terlihat adalah apakah orang berhenti, menonton sampai habis, memutar ulang, memberi komentar, atau mengirim video itu ke teman. Konten absurd punya keunggulan di sini karena ia memancing reaksi spontan.
Orang berhenti karena bingung. Mereka menonton ulang karena merasa ada detail yang terlewat. Mereka berkomentar “ini apaan?” atau “kok gue ketawa?” Lalu teman yang dikirimi video itu ikut mengalami kebingungan yang sama. Dari luar, siklusnya terlihat tidak masuk akal. Dari dalam, sangat masuk akal: internet memberi hadiah pada konten yang membuat orang bereaksi cepat.
TikTok sendiri sering menjelaskan budaya platformnya sebagai ruang untuk kreativitas komunitas dan partisipasi pengguna. Di halaman TikTok Newsroom, perusahaan itu rutin menampilkan bagaimana tren lahir dari remix, audio, dan kebiasaan pengguna yang saling meniru. Dalam konteks humor absurd, remix adalah bahan bakarnya. Satu orang membuat format, ribuan orang mengacaukannya, lalu versi paling aneh justru menjadi yang paling diingat.
Kenapa tetap ditonton walau “nggak ngerti”?
Karena tidak semua hiburan harus dimengerti penuh. Kadang orang menonton untuk merasakan ritmenya saja. Ada kenikmatan kecil ketika melihat sesuatu yang menolak dijelaskan. Dalam hidup sehari-hari, banyak hal sudah menuntut jawaban jelas: kerja, sekolah, tagihan, target, kabar buruk, komentar keluarga. Di internet, sebuah video absurd berdurasi tujuh detik bisa menjadi ruang bebas dari tuntutan itu.
Ada juga faktor kebersamaan. Ketika seseorang mengirim meme yang aneh ke teman, pesannya sering bukan “tolong pahami ini”. Pesannya lebih dekat ke “aku melihat kekacauan ini dan kamu harus ikut melihatnya”. Tawa muncul bukan hanya dari isi video, tetapi dari pengalaman berbagi kebingungan.
Ini mirip lelucon internal di kelompok pertemanan. Kalau dijelaskan kepada orang luar, mungkin hambar. Tetapi bagi yang sering terpapar, satu kata saja bisa cukup. Internet memperbesar mekanisme itu ke skala massal.
Humor TikTok 2026 terasa makin cepat dan makin pecah
Memasuki 2026, humor TikTok terasa makin pendek, makin padat, dan makin berani terlihat tidak rapi. Banyak video tidak lagi menunggu penonton memahami konteks. Mereka langsung masuk ke bagian paling aneh. Caption kadang dibuat terlalu serius untuk visual yang konyol. Audio dipotong kasar. Karakter muncul tanpa perkenalan. Komentar justru menjadi lapisan lelucon berikutnya.
Fenomena ini cocok dengan kebiasaan menonton sambil bergerak: di kasur, di angkutan, saat menunggu makanan, atau di sela pekerjaan. Orang tidak selalu mencari tontonan panjang. Mereka mencari sesuatu yang bisa memberi sengatan kecil sebelum jempol bergerak lagi.
Karena itu, topik seperti brainrot dan meme absurd tidak bisa dipahami hanya sebagai “anak muda suka yang aneh”. Lebih tepat jika dilihat sebagai bahasa hiburan yang lahir dari kecepatan. Semakin cepat orang scroll, semakin sedikit waktu untuk membangun cerita. Maka humor mencari jalan pintas: suara yang nyangkut, visual yang salah tempat, dan kalimat yang terdengar seperti berasal dari mimpi.
Tetap media culture, bukan sekadar meme random
Yang menarik, fenomena ini mulai keluar dari ruang meme dan masuk ke percakapan budaya populer. Brand ikut memakai gaya absurd. Kreator memasukkan referensi brainrot ke konten harian. Komunitas lokal mengambil istilah global lalu memberi rasa Indonesia. Bahkan orang yang mengaku tidak suka meme pun sering tahu potongan suaranya karena terus muncul di feed.
Di Cakra, pembaca juga bisa melihat bagaimana topik viral sering bergerak dari hal kecil menuju percakapan yang lebih luas. Internet culture bekerja dengan cara yang sama. Ia tidak selalu mulai dari peristiwa besar. Kadang ia mulai dari audio aneh, komentar iseng, atau karakter yang tampak dibuat tanpa rapat kreatif sama sekali.
Humor absurd akhirnya menjadi cara generasi internet menertawakan kelebihan informasi. Saat feed dipenuhi konten serius, jualan, edukasi, dan marah-marah, sesuatu yang tidak masuk akal terasa seperti jeda. Bukan jeda yang tenang, memang. Lebih seperti jeda berisik dan agak memalukan untuk diakui. Tapi banyak orang kembali menontonnya.
Pertanyaan yang sering muncul
Apa itu brainrot dalam budaya internet?
Brainrot adalah istilah populer untuk konten internet yang terasa absurd, repetitif, dan menempel di kepala. Istilah ini sering dipakai bercanda untuk menyebut video atau meme yang kacau, tetapi tetap membuat orang ingin menonton lagi.
Kenapa meme seperti Italian Brainrot bisa viral?
Karena formatnya mudah diremix, punya suara yang kuat, dan terlihat berbeda dari konten biasa. Orang tidak harus paham seluruh konteks untuk ikut menikmati atau menirunya.
Apakah humor absurd hanya tren sesaat?
Format spesifiknya mungkin berganti, tetapi pola besarnya kemungkinan bertahan: internet selalu menyukai lelucon yang cepat, mudah ditiru, dan memberi rasa kebersamaan bagi orang yang sering melihatnya.
Catatan gambar: cover editorial artikel menggunakan basis foto “Live from the streets” oleh Go-tea dari Flickr/Openverse (CC BY). Foto dalam artikel menggunakan karya Artem Beliaikin dari Flickr/Openverse (CC0).






