SEMBUNYI DARI RUH PERADABAN

Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat di suatu wilayah dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan mereka.

Kearifan lokal adalah keselarasan rasa dan kekentalan warna spiritualitas yang diendapkan dalam keheningan batin, kemudian diolah oleh kejernihan akal lalu dilontarkan dalam keindahan kata-kata sarat makna. Merupakan rumusan kenyataan hidup yang faktual, fenomenal dan futuristik yang dapat digunakan sebagai panduan mengatasi permasalahan hidup dan berperilaku. Pun juga sebagai penanda identitas peradaban bagi kaum atau generasi selanjutnya.

Menelusuri kearifan lokal saat ini seolah menembus labirin yang berlapis-lapis, yang berupa ilustrasi, sikap, opini dan kompleksitas dinamika pengkerdilan dan pemutusan sejarah. Para penelusur fakta sejarah mengalami banyak kesulitan dalam melacak jejak pradaban.

Penggiat tradisi dan sejarah Hangno Hartono menyampaikan, “untuk mendapatkan satu topik keotentikan sejarah melalui manuskrip kuno tidak bisa hanya dengan membaca satu kitab kuno saja, idealnya adalah dengan membaca, mengartikan dan menyimpulkan banyak kitab-kitab yang sejaman, sebab tidak semua kitab kuno berupa deskripsi sejarah, tapi ada yang berupa kitab sastra, kitab tata negara beserta hukum-hukum negara dan sejarah (menuliskan nama-nama tokoh dan kejadian-kejadian yang terjadi di masa itu).”

Betapa labirin-labirin berlapis itu sangat rumit. Butuh penguasaan aksara dan bahasa masa lalu yang sudah tidak familiar lagi dengan sistem aksara dan sistim bahasa masyarakat jaman sekarang. Belum lagi jika masih ada pembengkokkan makna dan secara sengaja mengubah arti yang dilakukan oleh penterjemah dengan maksud kepentingan tertentu, misalnya kepentingan politis dan atau sengaja membelokkan arti sesuai pemikiran dan sudut pandangnya sendiri.

Ki Djaloe, seorang praktisi supranatural dengan tegas dan lantang mengatakan, “fakta sejarah yang di konsumsi masyarakat secara luas sudah sangat carut marut.”
Ki Djaloe menambahkan bahwa dirinya telah mengalami banyak afirmasi perjumpaan dengan leluhur dan rata-rata leluhur berkisah tentang banyak hal yang terjadi di masa lalu. “Sangat miris dan trenyuhnya memang, kisah yang beliau-beliau sampaikan sebagian besar kontra dengan materi sejarah yang didapat pada dunia pendidikan dan sejarah yang di ketahui masyarakat secara luas.”

Sesederhana apapun sebuah fakta masa lalu selalu terhubung dengan ruang-ruang rahasia subyektif, enigma (teka-teki) dan metafora (bukan makna sebenarnya). Masih ditambah lagi sumber sejarah yang berupa prasasti, artefak, manuskrip dan situs sejarah banyak yang diangkut oleh kaum imperalis. Yang tersisa pun banyak dimusnahkan oleh bangsa sendiri (yang telah berbeda sistim religiusitas), karena dianggap sudah tidak bermanfaat, menyebabkan keburukan dan kesesatan.

Selain permasalahan diatas,  saat ini masih diperparah dengan pengkerdilan-pengkerdilan bahwa leluhur Bangsa Indonesia ini tidak memiliki peradaban dan pelaku animisme-dinamisme (kelompok penyembah makluk halus dan benda-benda yang dianggap bertuah). Sungguh sesak dan komplek permasalahan bangsa ini untuk kembali pada identitas bangsa sendiri.
Yaitu sebuah bangsa berkulit merah yang berkedaulatan hidup.
Sebuah bangsa yang memiliki sistim bahasa sendiri.
Memiliki sistem aksara sendiri.
Memiliki sistem kalender sendiri.
Memiliki sistem arsitektur sendiri.
Memiliki sistem sastra sendiri.
Memiliki sistem nada dan instrumen sendiri.
Memiliki sistem religion sendiri.
Memiliki sistem astronomi sendiri.
Memiliki sistem katuranggan sendiri.
Memiliki sistem beladiri/ bela negara sendiri.
Memiliki sistem fashion sendiri.
Memiliki sistem kesehatan sendiri.
Memiliki berbagai ensiklopedi sendiri yang orisinil dan mandiri
Memiliki Tanah Air surgawi yang sangat kaya.

Tak banyak bangsa besar yang memiliki sistem hidup yang komplit seperti suku-suku bangsa di Indonesia. Berkedaulatan hidup kesukuan namun mampu melebur dalam satu identitas bangsa yang besar, bangsa yang “raya”

Banggalah menjadi dirimu sendiri apapun sukumu, berbanggalah menjadi bagian dari Bangsa Indonesia, jangan biarkan bangsa lain menjajah dirimu dan menjadikanmu kloning bangsa pendatang.

Rahayu.

Reporter : Eko Marwanto

Iklan

error: