Layang-layang Unik dari Jepang Meriahkan Kite Festival di Pantai Ketawang Purworejo

Pelayang asal Jepang , Yaseda satu peserta Kite Festival menunjukkan layang-layang uniknya (Purwanto/cakra.or.id)

PURWOREJO –Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, kembali menggelar Kite Festival atau Festival Layang-layang yang diselenggarakan di obyek wisata Pantai Ketawang, Desa Ketawang, Kecamatan Grabag selama dua hari, Sabtu dan Minggu (29-30 Juli).

Festival ini diikuti oleh pelayang (sebutan untuk pecinta layang-layang) dari berbagai daerah di Indonesia antara lain Bali, Jakarta, Yogyakarta, Purworejo dan beberapa lainnya. Tak hanya itu, sejumlah peserta dari negara asing pun hadir menyemarakkan gelaran ini, ada pelayang dari Jepang, Swedia, Singapura dan Malaysia.”

Salah satu peserta dari luar negeri adalah Yo Yaseda (33) yang berasal dari Prefektur Kanagawa, Jepang. Perempuan cantik ini mengaku suka dengan Indonesia karena memiliki ‘high culture’.

“Saya adalah mahasiswa seni dan belajar membuat layang-layang di Indonesia. Ini kali kedua saya datang. Saya menjahit sendiri layang-layang ini, kalau bambunya (kerangka) dibuat bersama orang Indonesia,” tutur Yo Yaseda kepada cakra.or.id, Sabtu (29/07).

Yaseda menambahkan, membutuhkan waktu dua minggu untuk membuat layang-layang berbentuk daun kering atau yang ia sebut old leaf ini. Dengan ramah, Yaseda pun menunjukkan layang-layang miliknya kepada awak media.

“Selama di Indonesia mengikuti Kite Festival, saya tinggal di Yogyakarta. Saya sangat suka keramahan orang-orang di sini,” tutur Yaseda yang lumayan jago menerbangkan layang-layang ini.

Kepala Dinporapar Kabupaten Purworejo, Stephanus Aan Isa Nugraha menyampaikan bahwa festival ini diikuti oleh 41 klub pelayang Indonesia dan 4 klub dari luar negeri.

“Kite Festival ini adalah salah satu kegiatan tahunan unggulan Kabupaten Purworejo. Ke depan akan kami jadikan event unik, sehingga dapat mendukung sektor pariwisata,” kata Aan.

Festival ini melombakan empat kategori, yakni layang-layang tradisional, layang-layang 3D, layang-layang 4D dan jenis train naga yang sellau menjadi daya tarik penonton.

“Untuk tahun-tahun berikutnya, kami ingin memunculkan tema tertentu, bagaimana para pelayang bisa memunculkan keunikan kreasi bentuk layang-layang yang unik. Juri festival ini berasal dari para pelayang nasional,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Juri Festival Layang-layang Ketawang, Aji Marutahara menyampaikan bahwa kriteria penilaian lomba dari semua kategori hampir sama. Hanya layang-layang tradisional yang penilaiannya berbeda.

“Kriteria penilaian layang-layang tradisional agak lain, tiap kategori hampir sama hanya sedikit perbedaannya. Untuk jenis tradisional, ada dua macam yakni penilaian bawah meliputi kerangka, kerapian, harmonisasi antara bentuk dan warna, serta tingkat kesulitan membuatnya. Penilaian atas yang dinilai adalah cara terbang mulus atau tidak, saat terbang stabil atau tidak. Sendaren berbunyi atau tidak,” kata Aji.

Ia melanjutkan, untuk kategori tradisional juri menentukan model mancungan jogja. Tentunya harus ada unsur tradisionalnya. Sedangkan penilaian kategori lain yang dinilai salah satunya adalah meliputi kemampuan mengangkat tali, harus lurus dan kencang.

Pewarta : Purwanto Editor : Tris

Iklan

error: